liputan-dongeng-ciliwung

Sejumlah pegiat sungai yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung memeringati Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan upacara bendera di tengah aliran Sungai Ciliwung, Minggu (17/8). Bertempat di 2 titik peringatan 17 Agustus, titik pertama dekat jembatan Kota Kembang, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, sejumlah 100 orang dari berbagai kalangan mengikuti upacara dengan khidmat, lengkap dengan pengibaran bendera merah putih dan pembacaan teks proklamasi.  Lokasi tersebut juga menjadi titik awal susur Ciliwung dam titik kedua peringatan kemerdekaan sederhana dilakukan oleh Kak Resha Dongeng bersama anak anak Taman Baca Pustaka Air di Kelurahan Ratu Jaya Kecamatan Cipayung Kota Depok.

Azhar Malik, ketua pelaksana kegiatan Jelajah Kemerdekaraan Ciliwung 2014, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia melalui jasa para pahlawan.  Momentum Hari Kemerdekaan sekaligus digunakan untuk mengartikulasikan kemerdekaraan bagi ekosistem sungai.  Komunitas Ciliwung Depok hari itu memfasilitasi pelaksanaan peringatan upacara bendera yang dilanjutkan dengan susur  Ciliwung dengan menggunakan  7 perahu karet.  Susur dengan finis di daerah Pondok Cina dilakukan untuk memantau perkembangan sempadan Ciliwung.  Hasil pengamatan akan disampaikan kepada dinas dan lembaga terkait di Kota Depok.

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat langsung apa yang terjadi di Ciliwung melalui susur sungai ini ” Kata Azhar, Siswa Pecinta Alam  PLASMA SMAN 4 Kota Depok yang memimpin kegiatan hari itu.

Dihubungi terpisah, Sudirman Asun, aktivis dan koordinator Ciliwung Institute, tak henti menyerukan kepada masyarakat luas untuk peduli terhadap kelestarian Ciliwung.  “Ciliwung itu wajah Ibu Kota Republik Indonesia.  Jika Ciliwung buruk itu menunjukan pengelolaan Negara yang buruk pula” kata dia.  Asun menambahkan bahwa meskipun bangsa Indonesia telah merdeka, tetapi tantangan mengelola sumberdaya alam masih sangat besar, termasuk sungai.  Sungai Ciliwung, lanjut dia, dalam kondisi kritis dan mengarah pada hilangnya biodiversitas di dalamnya. Penelitian LIPI tahun 2011 menunjukan bahwa 92% spesies ikan asli Ciliwung telah punah.  Ciliwung di Jakarta bahkan mengalami penyempitan akibat penyerobotan sempadan sungai untuk permukiman dan pendangkalan dari sedimentasi baik lumpur maupun sampah.

Pendapat senada di lontarkan pegiat Ciliwung Depok, Taufiq  D. S. , yang juga koordinator Komunitas Ciliwung Depok.  Berdasarkan pengamatan yang ia lakukan secara rutin dengan program piket Ciliwung menggunakan perahu karet, Ia yakin bahwa pemerintah selama ini absen dalam pengelolaan sungai.  Sempadan Ciliwung, khususnya di Kota Depok menghadapi ancaman penyerobotan dari pembangunan perumahan baik komplek maupun individu.

“Ciliwung mengalami kehancuran, hak sempadannya di cabut.  Tapi Pemerintah tutup mata terhadap pelanggaran yang terjadi”. Kata Taufiq.  Apa yang disampaikan Taufiq bukan tanpa alasan.  Berulang kali pihaknya menyampaikan sejumlah hasil pengamatan lapangan kepada pemerintah Kota Depok.  Namun konversi sempadan masih terus terjadi.  Pelanggaran sempadan sungai nyata-nyata terjadi di depan mata. Namun sampai saat ini tidak ada sanksi yang diberikan.

Lihat saja hasil pengamatan Komunitas Ciliwung tahun 2013 yang menunjukan catatan terhadap pelanggaran terhadap sempadan Ciliwung.  Mulai dari Bojong Gede, Kabupaten Bogor sampai dengan Lenteng Agung, Jakarta, tercatat 215 titik gunungan sampah, 94 titik bangunan yang melanggar sempadan, dan 127 titik sumber limbah cair.

Belum lagi sejumlah catatan lainnya dari berbagai pihak.  Fakta kerusakan Sungai Ciliwung telah didokumentasikan dalam laporan jurnalistik Kompas (2009) dan laporan ekspedisi Badan Informasi Geospasial (2013).  Kedua laporan tersebut menggambarkan kondisi Sungai Ciliwung yang semakin memprihatinkan mulai dari daerah tangkapan air di Puncak sampai dengan muara di Jakarta.  Kondisi tersebut disebabkan oleh perubahan tutupan lahan di wilayah tangkapan air, sedimentasi akibat erosi, pencemaran, sampah, dan hilangnya fungsi vegetasi riparian di sempadan.  Serangkaian masalah tersebut menyebabkan daya tampung air sungai menurun.  Demikian pula dengan kualitas air Sungai Ciliwung yang semakin buruk.  Kementerian Lingkungan Hidup (2011) menyatakan bahwa  sebagian besar parameter Kriteria Mutu Air (KMA) Sungai Ciliwung tidak memenuhi kelas air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.  Sementara itu, Hadiaty (2011) melaporkan menurunnya kekayaan spesies ikan asli akibat degradasi kualitas habitat Sungai Ciliwung.  Kondisi sungai yang semakin buruk dari waktu ke waktu membuat DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu DAS kritis di Indonesia.

Rahmat Iskandar, warga Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok yang turut dalam kegiatan pengarungan mengaku prihatin sekaligus optimis terhadap kondisi Ciliwung di Kota Depok.  “ Meskipun terlihat banyak pelanggaran di sempadan Ciliwung, tapi masih ada tumbuhan yang tersisa cukup luas di sana-sini.  Masih ada harapan. Tumbuh-tumbuhan yang tersisa itu harus diselamatkan”.  Kata Rahmat.

Ciliwung adalah satu dari ribuan sungai yang mengalir di daratan Indonesia.  Aset alam yang menjadi bagian dari proses hidrologi tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan benar.  Memelihara dan memperbaiki sungai tampaknya perlu mengadopsi semangat juang pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaaan.  Persatuan menjadi kunci keberhasilan pencapaian kemerdekaan.  Demikian pula untuk urusan sungai.  “Kunci kesuksesan pengelolaan sungai harus dilakukan bareng-bareng”. Kata Taufiq menutup acara.

Musuh utama Ciliwung saat ini adalah konversi sempadan untuk perumahan dan bangunan lainnya.  Hal tersebut semakin memicu masuknya limbah dari rumah tangga, industri, dan sampah.  Pada kesempatan momentum HUT ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Ciliwung Depok bersama Komunitas Ciliwung lainnya menyerukan agar:

  1. Pemerintah pusat bersama dengan pemerintah daerah segera menetapkan Garis Sempadan Sungai yang menjadi amanat PP. 38 tahun 2011.  Sekedar mengingatkan Pemerintah, bahwa amanat tersebut harus dijalankan dan selesai pada tahun 2016 untuk seluruh sungai di Indonesia.
  2. Stop mengeluarkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk seluruh bangunan yang akan didirikan di sempadan sungai.  Jika masih terdapat pelanggaran administrasi tersebut, maka dapat diadukan sebagai dugaan kasus korupsi.
  3. Mengajak masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke Ciliwung dan mendukung inisiatif pemerintah daerah dan para pihak dalam penerapan pengelolaan limbah rumah tangga secara komunal.
  4. Pegiat sungai untuk terus aktif mengajak sebanyak-banyaknya masyarakat untuk meramaikan dengan berbagai kegiatan positif di Ciliwung.
Comments are closed.